Dalam pameo sering kita dengar " Demi anak, aku rela siang jadi malam, malam jadi siang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala" yang menggambarkan betapa jerih payah orang tua bekerja demi membanggakan anak. Sejatinya kita mesti mewaspadai motivasi semacam ini. Sebatas sebagai pendorong agar seseorang tidak malas bekerja, barangkali sah-sah saja. Namun jika paradigma berpikir dalam bekerja berorientasi anak, bisa jadi malah membawa diri terjerumus ke dalam neraka.
Umat islam, silakan perhatikan ayat Allah SWT " Sesungguhnya tiada lain harta-harta kalian dan anak-anak kalian merupakan fitnah (ujian)". Mencari nafkah memang tidak dilarang, bahkan dapat berbuah pahala. Namun semestinya motivasi dalam bekerja perlu senantiasa diluruskan. Ikatan orang tua dan anak semestinya dipahami dalam paradigma keakheratan. Allah ta'ala berfirman : " Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari neraka ". Konsep Islam mengajarkan proteksi keluarga dari bahaya neraka.
Tidak terhitung lagi contoh bagaimana jerih payah orang tua dibalas kedurhakaan anak. Hal ini dapat dipahami sebagai kesalahan paradigma dalam mendidik anak. Jika orang tua bekerja berorientasi anak, si anak akan menjadi pihak yang selalu memperbudak orang tua. Orang tua wajib mencarikan nafkah untuk keluarga sebagai bentuk tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah. Sehingga kadar kerja berpatokan pada keberhasilan menyelamatkan keluarga dari nerka, bukan menyelamatkan diri dari rengekan anak dan istri. Wallahu a'lam [Drs. Masri Effendi]
”Keutamaan 10 hari Terakhir”
”Makna Sillaturrahim”
”Nilai-Nilai Shaum Setelah Ramadhan”
”Sendi-Sendi Kebangkitan Islam”
”Kembali kepada Allah”